Senin, 28 Februari 2011

MENGAKUI RUBUBIYAH ALLAH SAJA TIDAKLAH CUKUP


Pembaca yang mudah-mudahan dirahmati Allah. Setiap kita meyakini akan keberadaan Allah, Dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, dimana kita melihat tatasurya yang begitu mengagumkan berjalan dalam keteraturan sesuai kehendak-Nya, Dia menjadikan hamparan langit terpancang kokoh tanpa tiangnya, Dia pula yang menghidupkan dan mematikan semua ciptaan-Nya, Dia yang menurunkan hujan atau menahannya, Dia menjadikan hujan tersebut bermanfaat bagi segenap mahluk-Nya, Dia memberikan setiap hamba rizkinya, hanya Dia pula yang mampu untuk menolak penyakit, mudlorot, bala dan musibah yang menimpa kaum muslimin secara khusus dan umat manusia secara umum.

Beberapa keyakinan seperti yang telah kami sebutkan diatas merupakan keyakinan ataupun kepercayaan yang juga diyakini oleh kaum musyrikin pada saat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam diutus ditengah-tengah mereka. Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menggambarkan keyakinan mereka,

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: 'Allah', ..." [Az-Zukhruf : 87]

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?', niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui" [Az-Zukhruf : 9]

"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". [Yunus : 31]

Perhatikan pula bukti-bukti bahwa kaum musyrikin dizaman dahulu telah mengakui rububiyah (perbuatan-perbuatan yang khusus hanya Allah saja yang mampu melakukannya) Allah berikut ini,

Bukti pertama, yakni perkataan Abdul Muthtalib tatkala Ka’bah akan dihancurkan oleh pasukan Abrahah, “Aku adalah pemilik onta-onta itu. Adapun rumah itu (Ka’bah) mempunyai pemilik yang akan memeliharanya”. [Baca buku As Sirah An Nabawiyyah Fi Dhaui Al Qur`an Wa As Sunnah, dan Ar Rahiqul Makhtum]

Bukti kedua, yakni perkataan kaum musyrikin tatkala mereka bertalbiyah, “Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada sekutu bagiMu, kecuali sekutu milik-Mu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa". (Lihat Buku Tafsiir Al-Qur'aan Al-'Adziim 10/528, Buku Tafsir At-Thobari 13/376 dan hadits riwayat Imam Muslim No. 2872)

Bukti ketiga, banyak orang-orang Arab yang bernama Abdullah sebelum dilahirkannya Nabi Muhammad shallaallahu 'alaihi wa sallam. Diantaranya adalah ayah Nabi yang bernama Abdullah. Dan Abdullah artinya hamba Allah, maka hal ini menunjukan bahwa mereka sudah mengenal Allah meskipun Nabi Muhammad shallaallahu 'alaihi wa sallam belum dilahirkan.

Penyimpangan Tauhid Rububiyah
Sungguh kita hidup pada zaman dimana kekeliruan itu semakin jelas bagi orang-orang yang Allah karuniakan pemahaman agama yang baik. Dengan pemahamannya atas agama Allah ini, mereka akan berjalan dengan pasti. Mereka berjalan dengan keyakinan yang mantap dimana sebuah kesalahan itu akan tetap merupakan kesalahan, dan kebenaran terlihat sebagai sebuah kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan karena cahaya ilmu yang Allah anugerahkan.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?“ (Al-An’am : 122).

Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kutinggalkan kalian di atas agama yang terang, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya sepeninggalku kecuali orang yang binasa” (HR Ibnu Majah No 43 dari Irbadh bin Sariyah, dinilai shahih oleh al Albani).

Penyelisihan atas tauhid rububiyah terjadi tatkala kita meyakini bahwa Allah memiliki sekutu yang juga mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan bagi Allah azza wajalla. Kita meyakini bahwasannya Allah Ta’ala yang mengatur alam semesta beserta isinya. Beberapa contoh penyelisihan terhadap tauhid rububiyah diantaranya,
1)      Keyakinan bahwa Dewi Sri yang memberikan kesuburan atas setiap petak sawah dan ladang, padahal kesuburan maupun paceklik terjadi atas kehendak Allah
2)      Keyakinan bahwa Nyi Roro Kidul yang menguasai pantai selatan, sehingga menyandarkan kemakmuran penduduk maupun kesempitan terjadi atas sebab sang ratu pantai selatan
3)      Keyakinan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat yang berbuat secara mandiri dialam ini
4)      Keyakinan bahwa wali-wali kutub memiliki hak untuk mengatur daerah-daerah tertentu.
5)      Keyakinan akan adanya pawang hujan, ataupun mereka yang mampu memindahkan penyakit dari mahluk ke mahluk yang lain.

Konsekuensi Meyakini Rububiyah Allah
Ayat-ayat yang menggambarkan keyakinan kaum musyrikin dahulu atas rububiyah Allah banyak sekali akan kita jumpai didalam Al-Qur'an. Maka barangsiapa yang mengira bahwa tauhid itu cukup dengan hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, pencipta, pemberi rizki, mendatangkan manfaat atau menolak bala’ maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Keyakinan seorang hamba atas rububiyah Allah mewajibkan dia untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah. Memurnikan peribadahan kita dari sholat, puasa, nadzar, haji, menyembelih, pengagungan, penghormatan, rasa takut, do'a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara' dan fitrah agar ditujukan khusus kepada Allah semata. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [Al-Baqarah : 21-22]

Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan selain-Nya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak mampu melakukan satu pun dari hal-hal yang tersebut pada ayat di atas.

"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik `Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al-Mu'minun : 84-89]

"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; ..." [Al-An'am : 102]

Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." [Adz-Dzariyat : 56]

Makna "ya'buduun " adalah mentauhidkan-Ku dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun telah mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Wallohu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar